COUNTDOWN
GELOMBANG I
HARI
JAM
MENIT
DETIK

GELOMBANG I

Pendaftaran dimulai dari :

01 Januari 2023 s.d 04 Juni 2023 

GELOMBANG II

Pendaftaran dimulai dari :

05 Juni 2023 s.d 15 Juli 2023 

Fasilitas Digital

NURUL WAFA

Apasaja fitur yang segera kami sediakan guna menunjang kebutuhan diera digital ini ?

Kegiatan Santri

Berikut fasilitas pembelajaran yang akan kita dapatkan di pesantren ?

Kabar Terkini

Jangan lupa pantau terus kabar terkini seputar pesantren !

Lokasi Kami

Lokasi yang strategis dengan akses jalan mudah, klik untuk menuju LOKASI

Sekretariat

Jl. KH. Moch. Idris Gunung Hideung  Desa Sukarame Kecamatan Sukarame Kab. Tasikmalaya Prov. Jawa Barat 46461

Social Media

@copyright_nurulwafagodigital_2022

About

Godigital

Kabar

Contact Us

Profil Pesantren

Berikut kami rangkum informasi terkait Pondok Pesantren Nurul Wafa Gunung Hideug

Sejarah

Visi-Misi

Kurikulum

Pengurus

Pondok Pesantren Nurul Wafa Gunung Hideung merupakan salah satu lembaga yang turut berperan aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan baik agama maupun darigama. Pondok yang berdiri pada tahun 1977 semula hanya terdiri dari asrama putra yang berjumlah 12 ruangan/kobong (saat ini menjadi asrama pusaka), masjid kecil, dan madrasah. Ketiga bangunan ini merupakan jerih payah dua ulama besar pendiri sekaligus pemilik Pondok pesantren yaitu  Al-magfurlah Syekhuna KH. Moch. Idris dan Syekhuna Al- Mukarrom KH. Asep Moch. Saefulloh. Semenjak tahun 1977, beliau pendiri dan pemilik Pondok Pesantren Nurul Wafa telah berhasil mencetak kader-kader Ulama yang telah tersebar di berbagai daerah. Selama memimpin Pondok, berbagai cobaan dan rintangan dating silih berganti. Namun berkat kesungguhan Syekhuna Al-Mukarrom KH. Asep Moch. Saefulloh, pondok berhasil bertahan hingga saat ini.

Pada mulanya pondok pesantren Nurul Wafa merupakan pesantren kecil yang dikelilingi oleh gunung. Namun dengan didasari oleh kesungguhan Syekhuna, pada tahun 1995 mulailah dibuka akses jalan masuk ke Pondok Pesantrenya itu dengan dibangunnya jalan yang saat inipun dijadikan jalur utama memasuki area Pondok Pesantren Nurul Wafa. Tahun ketahun jumlah santri di Pondok Pesantren Nurul Wafa mengalami pasang surut bahkan pernah hanya tersisa satu orang saja. Hal seperti ini tidak dijadikan alasan bagi Syekhuna pendiri dan pemilik Yayasan Ponpes Nurul Wafa untuk mundur dari perjuangan yang telah dilakukannya selama bertahun-tahun. Justru hal demikian dijadikans ebagai pecut agar lebih giat dalam mempertahankan syi’ar pesantren.

  Perhatian Syekhuna sesepuh pesantren terhadap santrinya sangatlah besar. Beliau curahkan seluruh perhatiannya terhadap keberhasilan pendidikan santri di pesantren. Hal ini beliau buktikan dengan berbagai cara mulai dari mengajari ilmu-ilmu agama yang memang telah beliau lakukan semenjak puluh tahun silam, hingga membangun seluruh fasilitas yang berada di Pondok Pesantren Nurul Wafa yang mencakup asrama putra, asrama putri, wc, taman, masjid, dan fasilitas-fasilitas lainnya.

System pengajian yang diterapkan di Pondok Pesantren Nurul Wafa sebagaimana system pengajian di pesantren-pesantren pada umumnya, yaitu dengan menggunakan metode bandungan, sorogan, diskusi, dan praktek ibadah.

Metode bandungan diterapkan setiap hari di setiap kitab yang dikaji. Guru membacakan logatan lalu menerangkannya, santri menulis dan memahami penjelasan guru. System ini telah diterapkan di Pondok Pesantren Nurul Wafa sejak pesantren didirikan tahun 1977. Secara turun temurun system ini terus dipakai karena dinilai tepat. Guru menjelaskan seluruh pengetahuan yang didapatkannya selama bertahun-tahun kepada santri, sehingga santri mampu menyerap pengetahuan gurunya yang telah bertahun-tahun menggeluti bidang keilmuan agama.

Metode sorogan dipakai di jam-jam tertentu. Dalam pelaksanaannya, santri membaca kitab, guru mendengarkan dan mengoreksinya. Hal ini dutujukan untuk menjaga keutuhan ilmu yang didapatkan dari guru. Di Pondok Pesantren Nurul Wafa metode ini diterapkan pada kegiatan LP2K. Kegiatan ini lebih ditujukan agar santri mampu membaca kitab kuning dalam tempo waktu 1 tahun.

Metode diskusi diterapkan pada pembelajaran di dalam kelas pada waktu-waktu tertentu. Dalam pelaksanaannya, guru memberikan permalasahan dari beberapa kitab, lalu santri membahasnya secara berkelompok dengan dibimbing oleh gurunya.

Praktek ibadah merupakan kegiatan harian yang dilaksanakan oleh santri sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Kegiatan ini merupakan bentuk penerapan pengajian yang telah dilaksanakan mulai dari bab ibadah, muamalah, munakahah, dan jinayat. Pada pelaksanaannya, santri dinyatakan lulus praktek ibadah bila santri telah sepenuhnya menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dinilai sangat penting karena pada umumnya penilaian hanya dianggap sebatas angka semata. Padahal, justru penilaian itu diadakan untuk mencapai tujuan utama yaitu penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

System pengajian yang diterapkan di Pondok Pesantren Nurul Wafa sebagaimana system pengajian di pesantren-pesantren pada umumnya, yaitu dengan menggunakan metode bandungan, sorogan, diskusi, dan praktek ibadah.

Metode bandungan diterapkan setiap hari di setiap kitab yang dikaji. Guru membacakan logatan lalu menerangkannya, santri menulis dan memahami penjelasan guru. System ini telah diterapkan di Pondok Pesantren Nurul Wafa sejak pesantren didirikan tahun 1977. Secara turun temurun system ini terus dipakai karena dinilai tepat. Guru menjelaskan seluruh pengetahuan yang didapatkannya selama bertahun-tahun kepada santri, sehingga santri mampu menyerap pengetahuan gurunya yang telah bertahun-tahun menggeluti bidang keilmuan agama.

Metode sorogan dipakai di jam-jam tertentu. Dalam pelaksanaannya, santri membaca kitab, guru mendengarkan dan mengoreksinya. Hal ini dutujukan untuk menjaga keutuhan ilmu yang didapatkan dari guru. Di Pondok Pesantren Nurul Wafa metode ini diterapkan pada kegiatan LP2K. Kegiatan ini lebih ditujukan agar santri mampu membaca kitab kuning dalam tempo waktu 1 tahun.

Metode diskusi diterapkan pada pembelajaran di dalam kelas pada waktu-waktu tertentu. Dalam pelaksanaannya, guru memberikan permalasahan dari beberapa kitab, lalu santri membahasnya secara berkelompok dengan dibimbing oleh gurunya.

Praktek ibadah merupakan kegiatan harian yang dilaksanakan oleh santri sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Kegiatan ini merupakan bentuk penerapan pengajian yang telah dilaksanakan mulai dari bab ibadah, muamalah, munakahah, dan jinayat. Pada pelaksanaannya, santri dinyatakan lulus praktek ibadah bila santri telah sepenuhnya menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dinilai sangat penting karena pada umumnya penilaian hanya dianggap sebatas angka semata. Padahal, justru penilaian itu diadakan untuk mencapai tujuan utama yaitu penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

System pengajian yang diterapkan di Pondok Pesantren Nurul Wafa sebagaimana system pengajian di pesantren-pesantren pada umumnya, yaitu dengan menggunakan metode bandungan, sorogan, diskusi, dan praktek ibadah.

Metode bandungan diterapkan setiap hari di setiap kitab yang dikaji. Guru membacakan logatan lalu menerangkannya, santri menulis dan memahami penjelasan guru. System ini telah diterapkan di Pondok Pesantren Nurul Wafa sejak pesantren didirikan tahun 1977. Secara turun temurun system ini terus dipakai karena dinilai tepat. Guru menjelaskan seluruh pengetahuan yang didapatkannya selama bertahun-tahun kepada santri, sehingga santri mampu menyerap pengetahuan gurunya yang telah bertahun-tahun menggeluti bidang keilmuan agama.

Metode sorogan dipakai di jam-jam tertentu. Dalam pelaksanaannya, santri membaca kitab, guru mendengarkan dan mengoreksinya. Hal ini dutujukan untuk menjaga keutuhan ilmu yang didapatkan dari guru. Di Pondok Pesantren Nurul Wafa metode ini diterapkan pada kegiatan LP2K. Kegiatan ini lebih ditujukan agar santri mampu membaca kitab kuning dalam tempo waktu 1 tahun.

Metode diskusi diterapkan pada pembelajaran di dalam kelas pada waktu-waktu tertentu. Dalam pelaksanaannya, guru memberikan permalasahan dari beberapa kitab, lalu santri membahasnya secara berkelompok dengan dibimbing oleh gurunya.

Praktek ibadah merupakan kegiatan harian yang dilaksanakan oleh santri sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Kegiatan ini merupakan bentuk penerapan pengajian yang telah dilaksanakan mulai dari bab ibadah, muamalah, munakahah, dan jinayat. Pada pelaksanaannya, santri dinyatakan lulus praktek ibadah bila santri telah sepenuhnya menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dinilai sangat penting karena pada umumnya penilaian hanya dianggap sebatas angka semata. Padahal, justru penilaian itu diadakan untuk mencapai tujuan utama yaitu penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

Godigital

ikuti sosial media kami disini !